Catatan Akhir Tahun Sepakbola Indonesia

Gaung turnamen sepakbola di seluruh penjuru negeri ini terdengar begitu membahana setelah PSSI sebagai badan tertinggi sepakbola Indonesia pada tahun 2008 ini mengeluarkan ‘produk’ terbarunya, yakni Indonesian Super League / ISL (super liga) yang merupakan turnamen terbesar dan terbaru di tanah air tercinta. ISL diklaim telah menjadi standar ukuran turnamen yang sesuai dengan liga-liga kelas dunia seperti bundesliga (Jerman), premier (Inggris), premiera (Spanyol), Calcio (Italia), dan yang lainnya. Ini sesuai dengan aturan AFC (badan tertinggi sepakbola Asia) yang mengharuskan setiap negara di asia mempunyai satu turnamen tertinggi yang dalam pelaksanaan dan teknisnya mengacu pada aturan AFC, disusul kemudian divisi-divisi di bawahnya yang diatur sendiri oleh badan sepakbola di negara yang bersangkutan.

ISL, kompetisi sepakbola paling aneh

Teknis pelaksanaan ISL pun mengalami hambatan. Walaupun belum digelar, tetapi telah menuai berbagai masalah di jalan. Aturan yang ada di dalamnyalah yang begitu memberatkan klub-klub peserta ISL. Mulai dari bentuk badan hukum, sarana dan prasarana klub yang ditentukan, sampai proses administrasi yang harus sempurna. Beban berat yang ditanggung klub pun semakin meruntuhkan mental mereka, saat dikeluarkannya PERMENDAGRI tentang dilarangnya klub-klub sepakbola di Indonesia menggunakan dana APBD. Padahal jelas-jelas mayoritas klub yang ada di Indonesia ini adalah milik daerahnya masing-masing yang didanai dari APBD, dana dari masyarakat. Alasan yang sungguh dilematis apabila peraturan tersebut dikelarkan karena klub harus mulai mandiri dan tidak memberatkan rakyat. Padahal klub sepakbola milik daerah sendiri telah ada dan berdiri di daerah itu, banyak penonton yang enjoy menikmati hiburan yang namanya sepakbola, apalagi klub itu membela dan membawa nama baik daerah itu ke tingkat nasional. Apakah pemerintah begitu tega memutus ikatan rantai antara rakyat dan klub sepakbola yang telah terjalin erat?

Dalam pelaksanaannya, banyak klub yang ‘terpaksa’ mencari dana yang begitu besar dari sponsor, itupun kalau dapat. Bahkan peraturan mempunyai stadion yang layak pun terbilang mendadak tanpa membiarkan klub bernafas sejenak memikirkannya. Sampai-sampai banyak klub yang pindah homebase ke luar daerahnya. Seperti Persita Tangerang, Pelita Jaya Purwakarta, PSMS Medan, dan sebagainya. Akibatnya stadion baru yang mereka jadikan homebase hanya sepi penonton. Padahal jelas-jelas mereka mengandalkan tiket dari antusiasme penonton dalam pendanaan mereka ke depan. Yang utama ialah menjadi kurangnya gaung kompetisi sepakbola di daerah-daerah karena klub yang mereka dambakan tidak bisa berlaga di daerahnya. Contoh lain kasus yang aneh ialah ketika Persija Jakarta dilarang memakai stadion Lebakbulus sebagai homebase, lalu ingin menggunakan stadion Gelora Bung Karno tetapi dilarang oleh Menpora Adhyaksa Dault. Kemudian entah karena alasan apalah yang begitu mengherankan, Persija boleh menggunakannya. Kemudian belum lama ini, Persitara yang dilarang menggunakan stadion Kamal Muaranya, malah dipindah ke Lebakbulus yang sebelumnya dilarang buat Persija. Kompetisi yang digembor-gemborkan sebagai yang terbesar tetapi dari awal pelaksanaannya saja suadah mengundang banyak kontroversi, dan dari dalam kepengurusannya saja sungguh tidak becus dalam melaksanakan tugasnya, ragu-ragu mengambil keputusan dan terbilang selalu mendadak, menjadi kompetisi paling aneh yang pernah digelar di negeri ini. Apa ini yang diinginkan para pengurus PSSI? Apa teguran AFC belum cukup setelah si ketua, Nurdin Halid dipenjara tetapi tetap dipertahankan, apa ada kongkalikong di dalam tubuh PSSI? Apa belum cukup juga jika event sebesar Munaslub di Makassar ditolak legalitasnya oleh AFC? Jawabannya hanya ada pada diri mereka para ‘tikus-tikus’ di PSSI yang merongrong dengan rakusnya.

Kegagalan TIMNAS, salah siapa?

Turnamen piala Asia awal tahun 2008 kemarin merupakan salah satu event yang tersukses digelar oleh PSSI. Dari semaraknya piala Asia dan Indonesia menjadi salah satu tuan rumah, bahkan menjadi tempat penyelenggara finalnya, membuat dunia khususnya masyarakat asia begitu melihat potensi Indonesia. Bahkan penampilan timnas Indonesia cukup mengagumkan karena telah mengalahkan Bahrain, dan memberi perlawanan sengit pada Arab Saudi dan Korea Selatan walaupun akhirnya kalah. Ini seharusnya memberi semangat para petinggi sepakbola kita dalam mengurus urusan sepakbola dalam negeri yang terkenal carut-marutnya.

Piala AFF, yang dulu dikenal dengan piala Tiger kelihatannya mulai dimanfaatkan kembali oleh para pengurus teras PSSI agar seperti suksesnya mereka menggelar piala Asia beberapa waktu silam. Memang sebagai salah satu tuan rumah Indonesia mampu memberi kepercayaannya itu pada publik. Tapi apa yang terjadi pada timnas kita? Lagi-lagi timnas hanya sampai semifinal, dan lagi-lagi kita hanya jadi penonton di kandang sendiri. Dua kali kekalahan beruntun kita dapat di kandang sendiri. Padahal ini baru level Asia Tenggara yang notabenenya bisa kita raih karena ini merupakn event internasional terbawah yang bergengsi yang dapat kita ikuti. Di atasnya ada piala Asia, lalu piala dunia. Tentunya timbul pertanyaan yang sama dari hati kita para pecinta sepakbola negeri Indonesia tercinta, salah siapa kegagalan beruntun yang menerpa timnas kita?

Jika dilihat dari awal, materi yang dimiliki timnas tidak kalah jauh dari negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, maupun Singapura. Kemudian pelatih Benny Dollo juga menurut saya sebagai salah satu pelatih yang terbaik di negeri ini. Lalu apa penyebabnya? Menurut saya, timnas sangat kurang persiapan sebelum turnamen ini. Bayangkan hanya dengan 1 bulan apa yang bisa didapat dari sebuah tim sepakbola? Tim-tim hebat seperti MU, Arsenal saja butuh beberapa bulan dalam meracik pemain-pemain superior seperti sampai sekarang ini. Harusnya, timnas dibentuk dan dilatih dari beberapa bulan sebelumnya agar terlihat kompak dan timbul semangat kebersamaan. Kemudian jangan bongkar pasang pemain, kasihan adaptasi mereka selama ini. Kita bisa lihat Thailand dan Singapura yang selalu memakai pemain-pemain itu terus, paling tidak mereka akan memasukkan dan menambah pemain muda sebagai cadangan energi untuk ke depan. Pandanglah juga masa depan sepakbola kita wahai para pengurus PSSI. Tirulah negara-negara tetangga yang telah sukses menggungguli kita padahal mereka dulu tidak ada apa-apanya dengan kita. Maju terus sepakbola Indonesia. Bersatulah suporter merah-putih !!

Yanuar

Suporter timnas Indonesia dan PSIM Jogjakarta

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s