Mourinho Style: Sukses di Masa Kini, Buram di Masa Mendatang?

Keberhasilan Internazionale Milan menjuarai Liga Champions Eropa tampaknya malah menjadi indikasi kemunduran indahnya permainan sepakbola. Pertahanan yang ketat, gol yang hanya dari serangan balik, serta adanya “skill” berupa kecerdikan memprovokasi lawan, menjadi nilai tambah dari permainan Inter. Chelsea, Barcelona, dan Bayern Munchen yang notabenenya mampu menjadi juara di kompetisi bergengsi negara masing-masing, tak mampu berkutik dibuatnya. Ironisnya, pola pertahanan dan serangan balik yang diperagakan Inter menjadi senjata khas mereka untuk meredam agresivitas serangan ketiga tim besar tersebut.

Mengapa bisa dikatakan sebagai kemunduran? Prospek sepakbola Eropa yang menjadi kiblat sepakbola dunia nampaknya akan tereduksi oleh supremasi benua lain yang mulai mengembangkan kekuatan mereka. Brasil dan Argentina sebagai penguasa Amerika Latin, beberapa negara Afrika dan Asia pun sekarang telah beralih menuju permainan cepat dan mendominasi permainan ala Eropa. Keberhasilan negara Eropa mendominasi piala dunia dan pentas kejuaraan eropa yang “panas”, tampaknya menjadi contoh yang “baik” bagi kebangkitan sepakbola di benua lain. Terbukti, kini Brasil di bawah Dunga mampu memperagakan permainan yang tidak membosankan dengan satu-dua sentuhan. Asia dengan postur kecil pun mampu mengembangkan permainan satu-dua sentuhan cepat dan agresivitas kecepatan kaki mereka. Afrika dengan postur besar pun memperagakan hal serupa. Tetapi kini, apakah Eropa yang akan beralih mundur apabila sepakbola diperagakan seserti halnya dilakukan Inter Milan? Ataukah malah “Mourinho style” akan semakin banyak diperagakan di dunia sepakbola?

Jika yang terakhir dilakukan, maka yang akan dilihat di arena lapangan hijau hanyalah permainan yang penuh taktik dan berorientasi pada hasil semata. Permainan yang langsung menuju gawang dengan umpan lambung pun akan kembali “berjaya”. Namun pertanyaannya, bagaimana bila semua tim, baik klub maupun negara akan melakukan dengan taktik yang sama ala Mourinho? Yang bisa kita lihat di lapangan ialah para komentator berkata:

“Para penonton sekalian, apa yang terjadi di lapangan. Kedua tim hanya berjaga-jaga di depan gawang tanpa melakukan serangan yang berarti. Tampaknya, mereka baru akan menyerang balik bila salah satu tim akan menyerang. Tapi, penonton pun tetap antusias menyoraki tim mereka dengan penuh kebanggaan, bla bla bla…”

Mourinho, Master Game Playstation dan Football Manager?

Terlepas dari prospek buram indahnya permainan sepakbola ke depan, Mourinho pantas diacungi jempol dari kinerjanya sampai saat ini. Ketidakmampuannya dalam mengoceh bola ternyata tidak membuatnya bersedih hati. Mulai dari menjadi penerjemah pelatih hingga menjadi pelatih dari klub kecil, mampu ia tempuh tanpa rasa segan. Kegigihannya dalam belajar mengolah permainan dari beberapa pelatih hebat pun menjadi nilai tambah baginya. Dan kini, kehebatannya “mencari” lawan daripada kawan, tampaknya akan semakin membuatnya tertantang mengalahkan setiap lawan-lawannya itu. Mungkinkah dia dulu seorang pioner yang ahli memainkan game playstation dan football manager?😀

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s