Sukses di Luar Akademik, di Tengah Menurunnya Kelulusan UN

Bak Oase Di Tengah Gurun

Di tengah menurunnya tingkat kelulusan siswa SMU maupun SMP di berbagai daerah di Indonesia, tidak sepenuhnya bisa disalahkan langsung kepada pihak siswa maupun instansi pendidikan terkait. Setidaknya, kasus seperti ini bisa disikapi dengan lebih arif. Toh, hasil UN ulangan belum keluar. Tingkat kejujuran dan pengawasan terhadap pelaksaan UN, maupun faktor yang lain seperti tingkat kesulitan soal yang lebih tinggi dari tahun ke tahun, membuat semuanya bisa terwujud dalam hasil akhir seperti itu.

Menurunnya hasil UN belum tentu menjadi indikator “kebodohan” pendidikan kita. Namun, bisa jadi merupakan indikasi adanya sistem pendidikan yang gagal mendidik siswanya. Ironis memang. Namun, beberapa kasus sepertinya bisa menjadi bukti. Seperti halnya tahun lalu, ada juga beberapa siswa peraih kejuaraan Olimpiade maupun lomba tingkat nasional dan internasional yang belum mampu lulus UN (dalam beberapa berita media televisi dan cetak nasional). Tantangan inilah yang harus diperjuangkan untuk meraih hasil yang seimbang anatara UN dengan proses pendidikan yang kompleks. Tidak hanya menjadi tanggungjawab Mendiknas, guru, dan jajarannya, namun juga menjadi pekerjaan wajib bagi semua warga negara.

Di Yogyakarta

Menurunnya tingkat kelulusan UN di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pendidikan, tidak serta-merta mampu “meruntuhkan” ekspektasi masyarakat terhadap predikat kota ini. Terlebih ketika mengetahui berbagai prestasi yang telah ditorehkan beberapa pelajar dan mahasiswa di kota Gudeg ini. Salah satunya ialah mengenai pembukaan kelas khusus olahraga.

Pembukaan kelas khusus olahraga di SMP Negeri 13 Yogyakarta dua tahun lalu, menjadikan SMP 13 meraih kesuksesan menjuarai Liga Pendidikan Indonesia (LPI) tahun 2010 beberapa waktu yang lalu di kota gudeg ini (berita harian Radar Jogja, 15 Mei 2010). Seperti yang diberitakan Radar Jogja, Pak Herry pun memberi stimulus bagi para siswa pemenang LPI (SMP 13 dan SMU Muhammadiyah 7), namun besarannya masih belum ditentukan. Uang hasil kejuaraan dari Piala Presiden dan uang pembinaan dari Kesbangpor Kota Yogyakarta ternyata “masih” belum cukup untuk memberi stimulasi pada para pemain tersebut. Stimulus tersebut tentu menjadi salah satu motivasi bagi para pemain SMP 13 sebelum maju ke turnamen sepakbola U-15 Piala Menegpora di Jakarta, 24-30 Mei 2010.

Keberhasilan membuka kelas khusus olahraga yang dicetuskan oleh Walikota Jogja, Herry Zudianto melaui SK Walikota dua tahun lalu, rencananya juga akan dikembangkan ke tingkat SMA, yakni di SMA Negeri 4 Yogyakarta. Rencana ini mungkin menyikapi hasil dari LPI kemarin yang mampu mengantarkan 3 instansi pendidikan di Jogja meraih prestasi, yakni SMP Negeri 13 Jogja (juara 1), SMU Muhammadiyah 7 Jogja (juara 3), serta Universitas Negeri Yogyakarta (juara 2) di tingkat pendidikan masing-masing.

Program buah karya Pak Herry ternyata mampu menjadi salah satu pijakan bagi keberhasilan proses pendidikan di tengah maraknya “gunjingan dan cercaan” terhadap para “petinggi” dan pembuat sistem pendidikan ini. Sekali lagi, pendidikan merupakan suatu proses yang kompleks, yang harus ditempuh melalui berbagai tahapan keberhasilan. Indikasi keberhasilannya pun seharusnya tidak bisa hanya ditempuh dengan satu minggu tes ujian, namun dengan hasil pengamatan proses pendidikan anak didik sehari-hari.

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s