Ada yang Sama Inggris dengan Indonesia?

Sepakbola Inggris: timnas terpuruk di tengah prestasi klub

Prestasi dan popularitas klub-klub di pentas sepakbola Eropa tak perlu diragukan lagi, terutama klub The Big Four. Bahkan untuk level dunia sekalipun. Hal tersebut didukung oleh arena sepakbola dalam negeri yang melambungkan industri dan bisnis berkembang pada klub sepakbola. Sepakbola pun menjadi suatu komoditas yang bernilai tinggi. Namun, prestasi klub tak sehebat dengan timnas mereka. Indikasi pertama, klub diyakini kurang mampu mencetak dan mengembangkan pemain berdarah Inggris. Kedua, industri sepakbola telah membuat banyak klub seperti MU, Porstmouth, dan lainnya berkutat dalam lubang hitam finansial, atau kebangkrutan akibat kelemahan pemilik dan pemegang saham terbesar klub yang gagal memanajemen kemampuan pendanaan mereka. Pemain yang didatangkan pun kebanyakan berasal dari luar, karena lebih murah dan telah terbukti kualitasnya seperti pemain muda yang berlaga di liga Prancis.

Dalam pentas Piala Dunia kali ini, yang lebih disoroti ialah mengenai striker dan kiper timnas Inggris. Striker yang dari tahun ke tahun masih saja mengandalkan kemampuan gaek alias telah menginjak masa tuanya seperti Owen, Heskey tentu mengindikasikan kemampuan striker muda yang kalah bersaing. Padahal kenyataannya tidak, pemain seperti Theo Walcott pun bisa menjadi juru gedor yang ampuh bagi suntikan tenaga timnas. Mungkin untuk tahun berikutnya, Inggris perlu mencari pelatih yang mampu mengoptimalkan tenaga muda di setiap posisinya. Belum tentu kehebatan Steven Gerrard, Frank Lampard, Wayne Rooney, dan John Terry akan terus bertahan. Cedera dan usia senja telah membayangi mereka.

Posisi kiper lebih banyak disorot sebelum, hingga pentas perdana yang dijalani Inggris di Piala Dunia kali ini. Semenjak ditinggalkan oleh kiper hebat seperti Gordon Banks dan terakhir ialah Seaman, Inggris pun seolah kehilangan dan kesulitan memunculkan kiper hebat kembali. Blunder yang dialami kiper West Ham, Robert Green, kembali menjadi hal yang paling disorot akan posisi kiper mereka. Blunder itupun mampu menggagalkan kemenangan Inggris atas USA. Di usia 30-nya, Green belum menunjukkan prestasi di level internasional. Sementara untuk kiper lain seperti David James, mereka semua belum mempunyai mental dalam menghadapi event besar seperti di pentas Liga Champions. Bahkan sedikit catatan untuk James, gol Chelsea ke gawangnya yang mencapai 7 gol setidaknya harus menjadi catatan tersendiri mengapa Capello masih mengambilnya untuk masuk memperkuat timnas. Untuk ke depan, Badan Sepakbola Inggris (FA) sekiranya perlu membuat regulasi baru yakni harus memberi kesempatan pemain asli Inggris untuk tampil di klub setidaknya satu pemain di setiap posisinya. Artinya, harus ada minimal empat pemain di setiap klub manapun di bawah FA, termasuk The Big Four.

Layakkah Indonesia meniru Inggris?

Sungguh tidak etis apabila sepakbola negeri sendiri tidak dipandang sama sekali. Untuk kali ini, sepakbola Indonesia setidaknya bisa mencontoh Inggris dari keberhasilan memajukan klub, namun dengan catatan bahwa pembinaan pemain lokal lebih diperhatikan. Kabar baik dari Menpora, Andi Malarangeng bahwa akan ada pengurangan jumlah pemain asing tentu menjadi awal yang baik. Jumlah 5 pemain dirasakan terlalu banyak. Terbukti bahwa juara Arema mampu mendominasi permainan terbaiknya dengan pemain asing andalan mereka seperti Noh Alam Syah, Roman Chamelo, Muhammad Ridhuan, dan Pierre Njanka. Namun, keberhasilan memunculkan pemain muda sangatlah perlu diapresiatif bagi skuad Singo Edan.

Alasan mengutamakan pembinaan pemain muda daripada hanya menjadi calon tuan rumah Piala Dunia perlu kita tunggu komitmen petinggi sepakbola dalam negeri ini. Belum tentu bahwa pembinaan akan terus dilanjutkan, dan pemerintahan SBY pun akan berakhir pada 2014. Bagaimana setelah itu? Bisa saja muncul kembali usaha pencalonan tuan rumah dan pembinaan pemain muda pun tersingkirkan. Istilah kasarnya, beda orang – beda tujuan.

Terlepas dari pikiran negatif tersebut, sepakbola negeri ini perlu membina pemain lokal dari sejak dini. Tanpa alasan ingin mempengaruhi ilmu dan prestasi pemain lokal, keberadaan pemain asing bisa ditinjau kembali untuk dihilangkan sementara waktu. Biarkan pemain lokal berkembang dan berkreasi di negerinya sendiri, bukan hanya duduk di bangku cadangan. Lihat perbedaan yang muncul setelah timnas terbentuk. Cacatan tambahan, pemain timnas dari waktu ke waktu hanya direkomendasi atas dasar pelatih dan skuad sebelumnya. Kehadiran Brad Friedl yang berusaha menjaring dari arus bawah mungkin bisa menjadi indikasi perkembangan timnas ke depan, semoga. Sosok gaek pemain “penghuni lama” timnas seperti Bambang Pamungkas yang sudah tidak lagi “pamungkas”, nampaknya perlu ditinjau lagi kehadirannya di timnas merah putih.

Jikalau prestasi diperoleh, seperti level asia tenggara, bahkan hingga lolos ke Piala Dunia, barulah pemain asing dan tetek-bengek industri sepakbola bisa dimunculkan ke dalam arena sepakbola dalam negeri. Prestasi nomor satu !!

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s