Koloni Sampah 5 cm

“Seperti diberitakan, jumlah pendaki Gunung Semeru mengalami lonjakan libur panjang akhir pekan ini. Otoritas TN BTS memperkirakan lebih dari 2.000 pendaki berada di jalur antara Ranu Kumbolo hingga Kalimati, Jumat, 20 Mei 2013. Demikian dikatakan Sucipto, Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Kabupaten Lumajang. Menurut dia, lonjakan ini terjadi karena dipengaruhi Film 5 CM. “Gara-gara film 5 CM membuat jumlah pendaki Gunung Semeru sampai sebanyak ini,” kata Sucipto.

Demikian sepenggal cuplikan berita dari sekian banyak berita yang menghiasi media massa pada bulan April-Mei 2013, tepatnya setelah film 5 cm dirilis dan menjadi populer. Kepopuleran itu membuat banyak pro-kontra antara penikmat film dengan pecinta alam tentang konten film 5cm yang dinilai tidak mengedukasi seseorang ketika mendaki gunung. Dalam hal ini, Saya mencintai dunia perfilman, saya pun juga mencintai alam. Maka dari itu, saya tidak akan berada di posisi manapun dalam permasalahan ini. Mau menjadi tempat wisata yang mendadak ramai karena sesuatu hal adalah sah-sah saja. Mau membuat film dengan ide apapun, sah-sah saja juga. Masalahnya, yang saya rasakan adalah tingkat kunjungan tersebut membuat para pendaki Semeru meninggalkan banyak sampah plastik. http://www.tempo.co/read/news/2013/05/19/199481482/Kumuh-Sampah-Plastik-Kotori-Kawasan-Gunung-Semeru

Saya memang bukanlah pendaki yang aktif menggapai puncak manapun. Baru tercatat dua gunung saya capai puncaknya, Merbabu dan Lawu. Itupun belum ada “apa-apanya” dalam usaha menggapai dataran tertinggi di Pulau Jawa bernama Gunung Semeru dengan Puncak Mahameru-nya (3676 mdpl). Namun kesamaannya, ada kesan yang sangat tidak enak ketika berlibur di tempat alam yang masih asri, tetapi pemandangannya hampir sama di wilayah yang berpenduduk. Pemandangan tak mengenakkan itu saya namakan Koloni Sampah Plastik.

Di setiap gunung pasti ada beberapa pos untuk sejenak berhenti atau sekedar menjadi petunjuk jalan. Hanya saja, di setiap pos memang banyak yang menyempatkan diri untuk beristirahat, bahkan bermalam dengan mendirikan tenda. Dari setiap pos itulah biasanya tertinggal sampah hasil bawaan pendaki. Dari sini, alangkah baiknya mereka belajar mencintai alam dan sekitarnya. Membawa barang bawaan makanan atau peralatan tenda sebesar badan sendiri saja kuat, harusnya membawa satu-dua bungkus plastik untuk membawa sampah bawaan sendiri sampai ke bawah harusnya juga bisa. Ya, ini adalah masalah etika.

Menyinggung film 5 cm yang tidak menampilkan barang bawaan besar yang menampakkan argumen betapa enak dan mudahnya mendaki gunung, seharusnya bukan menjadi alasan untuk membuat koloni sampah disana. Film memang tidak wajib menjadi sarana edukasi yang detail , apalagi film itu fiksi, bukan dokumenter. Jangan menyalahkan film, jangan pula menyalahkan komunitas pecinta alam. Mereka hidup dengan ide dan prinsip yang terus di hidup pada masing-masing karakter. Yang terpenting lagi-lagi ialah tentang etika. Ketika dua prinsip berseberangan, etika layaknya menjadi peneguh kekuatan prinsip yang utama.

Etika dilarang membuang sampah sembarangan seharusnya sudah dipelajari oleh semua para pendaki dan calon pendaki sejak bangku sekolah dulu. Dulu sewaktu masih di bangku SD, peribahasa “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” sering dipelajari sampai hafal kalimatnya, namun tak tahu apa makna dibalik kalimat tersebut. Kalaupun tahu, intinya adalah tentang menjunjung setiap kebudayaan yang berlaku dimana tempat kita berdiri. Seiring dengan berjalannya waktu, pengalaman lah yang membuat kita akan tahu makna dari peribahasa tersebut. Dibalik eloknya kata-kata itu, ternyata ada banyak pelajaran lain yang bisa kita ambil hikmahnya. Bukan hanya sekedar budaya, hal kecil seperti etika membuang sampah pada tempatnya pun lalai kita junjung. Saya jadi teringat ketika ada 3 spirit pecinta alam yang saya peroleh dari suatu kutipan situs, yakni :

1. Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak

2. Jangan ambil apapun kecuali gambar/foto

3. Jangan membunuh apapun kecuali waktu

Jarak 5 cm untuk sebuah mimpi yang akan diwujudkan adalah hal yang baik, namun jangan sampai menumpuk sampah walau hanya setinggi 5 cm. Selamat menonton gunung dan mendaki pelajaran berharga dari sebuah film😀

 

Ranu-Kumbolo-Gunung-Semeru319010_4012677435461_900888308_n

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s