Generasi terhebat masa kini itu datang masa lalu

Kita yang lahir di era-80an dan 90-an pasti mengalami situasi perubahan drastis pada masa kanak-kanak hingga sekarang. Banyaknya cerita, mitos, dan permainan tradisional telah hilang ditelan oleh kecanggihan teknologi. Handphone dan internet yang tumbuh di era reformasi telah membuat kenangan manis kita seolah terhapus dan terbius oleh kehadiran dua teknologi besar tersebut. Dari perubahan itulah, culture lag atau gagapnya terhadap kebudayaan yang baru wajar dialami oleh sebagian besar pemuda masa kini. Tengok saja pada generasi anak-anak ataupun remaja yang sejak lahir telah tumbuh di era teknologi modern sehingga proses belajar mereka mengalami “ketidaksempurnaan”. Mengapa? Ya, mereka telah tumbuh dengan terbiasa dimanjakan oleh peralatan modern yang mengubah gaya hidup menjadi lebih mudah dan efisien. Akibatnya, proses belajar dari otak menjadi lebih cepat dan kritis, namun sense, feel, and afection atau perasaan dan sikap menjadi lambat bergerak.

Sudah banyak terlihat telanjang oleh mata, ketika banyak anak muda lebih menghargai teknologi daripada nilai-nilai sosial. Ketika handphone menggantikan tradisi mengetuk pintu, menyapa, dan berkunjung ke rumah orang lain. Ketika televisi dan internet menjadi sumber informasi nomor satu daripada berinteraksi sosial dengan lingkungan sekitar. Dan masih banyak “ketika-ketika” lainnya jika digaruk lebih dalam dari masing-masing persepsi generasi dewasa terhadap generasi remaja masa kini.

Lalu, apakah generasi dewasa sekarang pantas disebut sebagai generasi hebat yang “berhasil” mengikuti perubahan besar dari hadirnya teknologi?

Jawabannya adalah iya. Namun, ada yang lebih hebat. Mereka adalah generasi orangtua kita.

Yap, mereka yang lahir di era 50-an hingga 70-an adalah generasi yang berhasil mendidik kita hingga sampai saat ini. Merekalah yang masih bisa menikmati sebenarnya akan cerita nyata dari teksbook dan buku-buku sejarah yang kita baca sejak bangku sekolah dasar. Era kemerdekaan hingga era perubahan situasi politik global dengan berakhirnya masa orde baru, telah mengubah gaya hidup mereka pada masa itu ketika mereka masih remaja. Ditambah dengan hadirnya era teknologi ketika kita menginjakkan langkah pertama ke dunia ini, mereka menjadi generasi yang menikmati perbedaan besar kedua dalam hidupnya.

Orangtua tumbuh dalam beberapa fase hidupnya. Ketika anak-anak masih dilanda situasi politik yang panas akibat belum stabilnya situasi pemerintahan saat itu, ketika tumbuh remaja dihadapkan pada era orde baru, dan ketika tua menghadapi era teknologi yang serba instan dan harus menghadapi tantangan dalam mendidik anak dan cucunya.

Inilah kenapa saya sebut mereka pantas menyandang sebagai generasi paling hebat dalam hidup saya saat ini. Jadi, kalau masih ada generasi remaja yang menyebut mereka kolot dalam masalah perjodohan ataupun menyebut mereka kuno dan gagap teknologi masa kini, you’re wrong guys ! . Malah kalian-lah yang layak disebut childish🙂

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s