Menikmati Tempat pada Waktunya, atau Menikmati Waktu pada Tempatnya? :)

Libur telah tiba..libur telah tiba..hore.hore.hore !

Sepenggal lirik yang dinyanyikan Tasya, dan menjadi salah satu lagu liburan yang terkenal bagi anak-anak. Tapi, buat anak-anak masa kini, masih bisa hore-hore kah? Saya sih kadang bisa jadi aduh.aduh hahaha. Kasihan juga ngeliat banyak tempat wisata sudah penuh sesak oleh pengunjung ketika musim liburan sekolah tiba. Kebanyakan sih penyebabnya emang satu, yakni tempat wisatanya udah mainstream, hihihi.

Saya dan rekan-rekan sekolah dulu, eks temen SMP dan SMA masih menyempatkan waktu ketika luang (kami menyebutnya: selo), ketika kuliah maupun saat menjadi mahasiswa tingkat akhir dan pengangguran. Ternyata masih banyak kok  tempat di sekitar kita yang masih bisa dimanfaatkan menjadi tempat wisata alternatif yang tak kalah sensasi nikmatnya dengan tempat wisata yang sudah populer. Bagi kami, sebut saja misalnya daerah seperti lereng gunung atau pantai sering kami jelajahi dengan blogwalking atau forum traveller yang masih asing. Dengan begitu, walau kami bukan penemu pertama, karena kami emang tidak ingin jadi seperti cristhoper columbus, setidaknya kami masih bisa menjadi orang kedua, hahaha atau dengan kata lain masih bisa menikmati segarnya alam yang belum dijamah oleh manusia setiap waktu.

Yah walaupun begitu, kami tak menampik ketika salah satu dari kami menggunggah foto ke social media, maka teman dari teman kita pun bisa segera menanyakan tempat tersebut dan lama-kelamaan bisa menjadi terkenal. Era social media ini emang luar biasa. Sekitar setahun yang lalu, kami mengunjungi pantai daerah Gunungkidul yang masih belum terekpose luas. Setelah mencari di blog atau forum traveller, kami menemukan pantai Pok Tunggal dan segera mengunjunginya. Hasilnya, jalan masuknya masih lebih mirip seperti sungai yang tidak ada airnya, pffft. Pengunjungnya waktu itu baru tiga rombongan, padahal waktu itu adalah weekend di musim liburan . Satu rombongan telah meninggalkan lokasi, satu rombongan masih tidur-tiduran di tenda doom, dan satu lagi adalah kami. Bisa diperhatikan kalau kenyamanan mereka sangat terlihat dari sepinya pantai. Hanya ada satu sampai tiga bangunan yang menjual makanan dan jasa kamar mandi, serta satu tempat parkir. Sangat jelas ketika hadir di tempat itu, kami langsung dihadapkan pada satu pohon cemara yang menjadi subjek utama dengan background lautan lepas. Dengan adanya satu pohon cemara itulah, kami langsung menyadari mengapa pantai ini dinamakan pok tunggal. Pok berarti cemara, tunggal adalah satu. Kursi-kursi pun bebas dipakai dan ditempatkan di penjuru pohon yang ada di tempat itu. Sepertinya penduduk lokal masih menjadikannya sebagai pantai yang juga mereka nikmati bersama-sama.

Setahun ini, keadaan pantai pok tunggal sangatlah berbeda ketika kami mengunjunginya kembali dengan rekan lain yang takjub dengan foto yang kami tawarkan. Sampai disana, bego atau alat berat menjadi pemandangan pertama yang tergeletak di pinggir jalan menuju pantai. Sepertinya jalan akan diratakan dan dibuat nyaman. Perkiraan kami, sudah setahun dan informasi pasti sudah menyebar di beberapa situs traveller dan social media, pantas jika akan lebih ramai. Kenyataannya sungguh menakjubkan. Lebih dari yang kami kira, sebelum masuk pantai sudah ada beberapa lahan parkir baru yang dibuka. Bahkan ketika masuk, ada banyak bangunan semi permanen yang menyediakan makanan serta jasa kamar mandi yang membujur di sekitar bibir pantai. Payung warna-warni menghiasi sepanjang pantai yang dipenuhi sekitar ratusan pengunjung waktu itu. Mobil-mobil pun berderet memasuki lahan parkir.

Kenyataan telak bagi kami. Betapa berbedanya keadaan saat ini. Kami begitu kecewa. Hasilnya, kami mencoba pantai lain di sebelah barat yang masih belum ramai seperti Watu Lawang dan Watu Kodok. Yah, namanya juga bukan pantai milik pribadi. Apapun bisa berbeda seiring waktu berjalan,hehe.

Mungkin efek social media telah mengecewakan kami, tapi kami juga harus belajar bijak. Kekecewaaan kami bisa menjadi kebahagiaan bagi penduduk lokal yang menggantungkan nasibnya pada pariwisata. Ini bukan pertama bagi kami, sebut saja beberapa pantai dan tempat lain yang kini telah populer sepeti Air Terjun Sri Gethuk dan Caving Gua Pindul adalah beberapa diantaranya. Dulu ketika kami berkunjung, betapa sepi dan masih hangatnya suasana yang terjalin dengan pemandu wisata maupun masyarakat sekitar. Mulai dari menanyakan hal sepele tentang sejarah tempat-tempat itu, hingga gratis menitipkan tas dan barang bawaan kami. Tapi mungkin sekarang, semua serba komersialisasi,hehehe.

Yah setidaknya bagi anak-anak dan keluarga yang sedang berlibur, lokasi atau tempat bukan menjadi perihal utama. Yang terpenting ialah bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu dengan berbagai kegiatan dan kebersamaan bersama orang sekitar kita, dengan situasi dan fasilitas yang ditawarkan tempat tersebut. Selamat berlibur😀ImageImageImageImageImage

Image

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Menikmati Tempat pada Waktunya, atau Menikmati Waktu pada Tempatnya? :)

  1. Hore… Hore…. Fotoku terpampang. Narsisme ala generasi ‘aku’ Indonesia (postingannya Ucup).
    Pok = Cemara, lagi reti ik…
    Wes layak dadi Jurnalis koe Yan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s