Sepeda, Gaya Hidup Modern dengan Alat Klasik

 

Riuh ramai jalanan Jogja malam itu terasa berbeda dari hari biasanya. Suara alunan kring-kring mendominasi suasana di bundaran Stadion Kridosono. Ya, jalanan itu dipenuhi oleh ribuan pesepeda dari berbagai usia dan kalangan. Mereka menamakan dirinya sebagai partisipan Jogja Last Friday Ride atau JLFR. Event yang rutin diselenggarakan tiap jumat malam di akhir bulan ini, membuat JLFR semakin mendapatkan tempat di hati para pengayuh sepeda. Mereka yang sudah bosan dengan irama jalanan yang penuh dengan polusi dan kebisingan kendaraan bermesin. Tak peduli dengan usia, jenis sepeda, profesi, hingga latar belakang apapun yang menjadi pembeda, mereka bersatu dalam kegiatan JLFR tanpa adanya kepentingan apapun, kecuali bersepeda bersama.

JLFR seolah menjadi napas baru bagi para pecinta dan pengguna sepeda di kota pelajar ini. Mereka seolah rindu akan gelora masa lalu yang menjadikan kota Jogja sebagai kota sepeda. Waktu telah berlalu, dan gaya hidup sudah berubah. Kini, gaya hidup modern telah merambah semua ruang. Salah satunya ialah industri otomotif yang menjadi primadona semua kalangan. Namun, tingginya angka polusi udara dan berbagai permasalahan lalu lintas membuatnya mengalami penurunan tingkat kepercayaan. Primadona masa lalu, sepeda, kian disadari bisa menjadi alternatif yang tidak hanya bisa mengatasi permasalahan itu, namun juga bisa menjadi gaya hidup modern yang berkualitas.

Sepeda memang bukan lagi sebagai alat utama transportasi seperti jaman era kemerdekaan. Bersepeda juga tidak lagi hanya untuk berolahraga. Di balik semua itu, bersepeda merupakan gaya hidup baru yang fleksibel, dapat dilakukan semua orang tanpa mengenal latar belakang apapun, dan yang pasti, menjadi kegiatan untuk lebih dekat berinteraksi dengan sesama dan lingkungan sekitar. Pengguna sepeda yang kian minim akan terasa istimewa ketika sesama mereka berpapasan di jalanan dan saling menyapa, walaupun tidak saling mengenal satu sama lain. Berbeda sekali ketika menggunakan alat transportasi lain yang saling berebut dan menyalip untuk mendapatkan ruang di jalanan. Bersepeda juga lebih dekat dengan lingkungan sekitar. Dengan ayuhan sepeda yang pelan, pengguna sepeda bisa memperhatikan keadaan sekitar dengan lebih baik. Jalanan yang kurang baik, sampah yang bertebaran, genangan yang luas, itu semua menjadi sensitifitas umum bagi para pesepeda.

Lebih jauh dari semua tujuan bersepeda, aktivitas ini telah menjadi aktivitas untuk mencintai diri sendiri dan sesama. Mencintai sepeda, akan bermanfaat bagi tingkat kepekaan sosial dan moral, dan tentu saja kesehatan bagi tubuh. Di sisi lain, permasalahan kesehatan lingkungan dan lalu lintas akan semakin dapat diminimalisasi oleh semaraknya sepeda di jalanan.

“Aku tidak ingin rumit. Aku tidak ingin semuanya menjadi penat. Aku ingin bebas” (Premium Rush, 2012). Nilai kebebasan, semangat, dan keceriaan menyatu dalam diri sebuah alat klasik bersama penunggangnya. Kayuh, kayuh, dan kayuh.

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s