Women vs Football: Who’s the Winner?

“jadi, kamu lebih milih nonton bola daripada pergi sama aku?”

“kamu malam minggu malah maen futsal? Waktu buat aku kapan?”

….dan kalimat-kalimat kutipan lain yang saya anggap sebagai kalimat terklasik sejak jaman sepakbola tumbuh subur di Eropa hingga pelosok dunia. Bahkan, kalimat ini seperti kalimat yang tak lekang dimakan jaman, yang tumbuh subur menggerogoti dunia romansa yang telah lahir jauh mendahului lahirnya sepakbola. Sepakbola pun jadi hal yang paling mengusik, umumnya dialami oleh kaum hawa.

Mungkin jika diceritakan tentang proses kontradiksi pikiran mengenai hal ini pada pria dan wanita tentu saja sudah sangat lazim didengar oleh kita. Tapi masalahnya, secara kuantitas, sebenarnya besar manakah kualitas cinta pada hobi dan pasangan? Kalau boleh menebak, kemungkinannya cuma ada dua.

Pertama, jelas mencintai pasangan adalah hal paling normal bahkan dibilang wajib untuk masa depan kita. Mencintai wanita ada di atas segalanya dibanding hobi yang tak bisa memiliki anak sebagaimana wanita(?). Ini adalah masalah pandangan tentang visi dan misi kehidupan. Ranahnya lebih luas.

Kedua, secara khusus, ada alasan hobi seperti sepakbola menjadi prioritas ketika ada kesempatan yang lebih luas seperti saat remaja dan masa muda. Cewek boleh ganti, tapi sepakbola tak akan pernah tergantikan. Mungkin itu semboyan mereka para football addict dan fans, hahaha.

Kemungkinan lain tentu saja ada pada masalah biologis yang tak mampu saya jelaskan karena saya kurang tahu menahu tentang hal ini. Namun, saya menemukan istilah hormon yang memicu dan menyebabkan dua kesenangan ini bisa ada dalam jiwa dan raga kita. Pertama ialah hormon dopamin. Hormon ini terpicu akibat kebiasaan yang terbangun atas kesenangan yang menimbulkan sensasi tersendiri bagi seseorang. Hobi muncul akibat aktivitas tersebut membuatnya senang dan seperti ada rasa candu dikemudian hari. Selengkapnya mengenai dopamin bisa disimak di link ini http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2013/09/24/rahasia-dopamin-dibalik-hobi-seseorang-592663.html

Yang kedua adalah hormon oksitosin atau dikenal dengan hormon cinta. Hormon inilah yang akan menginduksi perasaan ketertarikan romantis pada pasangan sekaligus meningkatkan ketakutan dan kecemasan. Selengkapnya mengenai hormon oksitosin ini dapat disimak di link http://forum.kompas.com/kesehatan/288041-hormon-ini-timbulkan-rasa-cinta-sekaligus-luka.html

Dari dua hormon itu saja bisa dibayangkan, betapa hebatnya Tuhan memberi kita hormon untuk terpikat atas rasa senang dan efek yang ditimbulkannya begitu hebat hingga memelihara istilah romansa dan sepakbola hingga detik ini.
Yang saya tidak tahu adalah apakah hormon-hormon itu ada kadar yang menyebabkan perbedaan atas besarnya cinta kita pada hobi (dopamin) ataukah pasangan (oksitosin). Hendaknya kita lihat lagi apa visi dan misi kita hidup di dunia ini, itulah gambaran dari jawaban yang akan kita temukan. Subjektif memang.

Kesukaan terhadap sesuatu seperti benda dan objek lain selain manusia, adalah hal yang berbeda menurut saya. Hubungan (relationship) antar manusia tidak bisa disamakan dengan hubungan kita pada benda. Proses memulai, me-mantain, menjalin, bekerjasama, dan menjaga hubungan yang berbeda inilah yang menyebabkan kualitas cinta pada pasangan tentu menjadi nomor wahid ketika dikomparasikan dengan kualitas cinta kita pada objek tertentu, tentu saja seperti pada sepakbola. Tapi efek dari dua hal ini adalah sama. Sama-sama menjadi moodbooster yang luarbiasa bagi kehidupan. Euforia kita akan kemenangan dan juara yang dialami oleh klub yang kita idolakan tentu akan sama rasanya ketika kita berhasil membahagiakan ataupun dibahagiakan oleh pasangan tercinta.

Pada akhirnya….seperti tidak ada gunanya mempertentangkan dua hal ini jika hubungan asmara berani bekerjasama untuk saling memahami hobi dan passion masing-masing. Ada ungkapan terkenal yang dikutip saat menjelaskan trend modern tentang WAGs (Wife And Girlfriends), namun saya lupa siapa yang mengatakannya. Diantaranya:

Beri pria sebuah bola, maka ia akan bahagia seharian.
Beri pria seorang wanita, maka ia akan bahagia semalaman.
Beri pria seorang wanita yang menyukai sepakbola, maka ia akan bahagia seumur hidupnya.

Setuju atau tidak pada ungkapan di atas, tergantung pada pikiran personal masing-masing. Tapi coba bandingkan dengan ungkapan ini:

Jangan paksakan wanita untuk mencintai sepakbola sebagaimana kau mencintai sepakbola dari kecil. Tapi bagi wanita yang tidak mencintai sepakbola namun dia bisa membahagiakanmu tentang hobimu ini, ia adalah wanita yang pantas engkau pertahankan seumur hidupmu.

Selamat mengekspresikan gairah cinta dan jangan lupa berbagi ke sesama😀

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s