Timnas U-19, The Power of “Blusukan”

Saya masih tidak percaya dengan hasil kemenangan timnas atas Korea Selatan beberapa hari yang lalu. Hasil seri saja saya kira sudah menunjukkan daya juang garuda muda dengan kapasitas yang mereka miliki saat ini. Namun motivasi dan mental yang mereka tampilkan bisa mengalahkan skill dan kematangan tim yang sudah 12 kali juara turnamen AFC itu.

Kemenangan sempurna di babak kualifikasi ini tentu bukan hasil instan seperti yang dilakukan pada pembentukan timnas senior dan timnas u-23 sebelumnya. Pelatih Indra Sjafri mengaku rela menerapkan metode “blusukan” agar menemukan talenta tersembunyi di balik populasi besar negara ini. Terbukti banyak klub asal mereka yang tidak terlalu populer di jajaran kompetisi liga. Tidak adanya kompetisi dengan jenjang usia yang resmi digelar oleh PSSI membuatnya tampak kewalahan “jemput bola” ke daerah pelosok hingga ke desa-desa sekalipun.

Rasanya sangat aneh logika yang diterapkan PSSI ketika mencanangkan target juara SEA GAMES bahkan hingga ingin lolos ke Piala Dunia jika sistem kompetisi dan pembinaan usia muda masih belum bersinergi. Membuat kompetisi usia berjenjang hingga level senior seharusnya bisa dipetik hasilnya setidaknya untuk menjadi “juara di negeri sendiri”. Rasanya akan mengurangi ketergantungan di setiap tim akan impor pemain asing. Lihat saja jika banyak sosok seperti Evan Dimas-Evan Dimas yang lain, pasti klub ISL pun tak akan kesulitan merekrut pemain asing dengan gaji yang lebih tinggi dan permintaan fasilitas yang lebih dari pemain lokal. Bahkan pemain asing yang merumput di Indonesia pun belum tentu berkualitas di negeri asalnya.

Indonesia Scouting System (Sistem Pencari Bakat untuk Indonesia)

Proses inilah yang harus disadari dari awal oleh petinggi sepakbola ibu pertiwi. Walaupun membuat kompetisi masih bersifat kompleks dan tidak bisa dilakukan secara instan, setidaknya saya masih berkeinginan PSSI membuat semacam Sistem Pencari Bakat yang tersinergi dan berkualitas. Seperti yang ada di klub idola saya, Arsenal. Bukan karena subjektivitas, klub asal London Utara ini terbukti sudah dikenal mengembangkan bakat terpendam dari para pemain antah-berantah yang tak dikenal oleh publik sebelumnya. Awalnya hanya mempunyai agen pencari bakat yang tersebar di pelosok Britania Raya, bahkan ketika mereka sukses di era George Graham. Kedatangan the Professor, Arsene Wenger, klub ini mulai membuat inovasi scouting yang mereka namakan dengan Global Scouting System. Scout yang disebar secara global di beberapa titik utama belahan dunia, yang kemudian dihubungkan secara berjenjang dengan memiliki sistem koordinasi dan struktur scout dari bawah ke atas. Struktur tertinggi ada pada seorang kepala scout yang tepat berada langsung di bawah manajer itu sendiri. Jadi ada beberapa proses scouting yang bertahap sebelum diamati langsung oleh jajaran pelatih dan manajer. Layaknya detektif, ada bahan rekomendasi dan proses negosiasi “informal” yang dilakukan oleh para scout itu. Di era modern seperti ini, sistem ini tentu saja juga telah dimiliki oleh banyak klub besar lainnya.

Namun sangatlah rumit jika meniru keseluruhan sistem tersebut mengingat sifatnya yang global. Cukup untuk keperluan timnas, tentu saja hanya di wilayah NKRI. Boleh disebut Indonesia Scouting System atau istilah yang lainnya. Dari program ini, Indonesia setidaknya akan mempunyai scout terlatih asli pribumi yang mengadopsi struktur kriteria pemain bertalenta dari klub luar. Masing-masing daerah seperti Kabupaten akan didayagunakan seorang scout yang kemudian di atasnya dikepalai oleh Scout di level Propinsi. Di atasnya lagi mungkin akan langsung menuju pada Jajaran Kepelatihan Timnas per usia yang dibutuhkan. Tentu saja tidak akan serumit urusan klub dalam bernegosiasi. Timnas Indonesia masih menjadi primadona dan setiap anak akan punya mimpi bermain untuk negeri ini.

Mungkin tidak ada salahnya menerapkan sistem ini terlebih dahulu sebelum digelarnya kompetisi yang wajib mempunyai misi dan visi jangka panjang. Setidaknya, kinerja pencarian talenta terpendam akan lebih optimal dan akan banyak SDM terlatih di dalamnya. Tidak akan ada lagi pelatih timnas sampai “turun gunung” dan melihat anak-anak bermain di jenjang tarkam dan lapangan pedesaan. Pelatih kepala seperti Indra Sjafri bisa mendayagunakan tenaga dan waktunya untuk lebih berkonsentrasi ke program teknis kepelatihan dan sebagainya.

Lagipula, jikalau hanya mengandalkan sebuah kompetisi antar usia yang berkualitas di negeri ini, belum tentu kita mendapatkan bakat tersembunyi dari seorang Muchlis Hadi Ning, striker timnas u-19 yang tidak punya cukup uang untuk belajar di sebuah Sekolah Sepakbola (SSB). Ingat, negeri ini masih menjadi negeri yang berkembang, tidak semuanya mampu untuk mengikuti organisasi yang membutuhkan materi. Tidak semua anak di penjuru negeri mampu mengikuti kompetisi jika mereka tidak mempunyai klub resmi. Kita seharusnya lebih peka menghadapi persaingan jangka panjang.

Tidak selamanya pula metode Eropa yang dikenal sebagai kiblat keberhasilan sepakbola perlu kita contoh mentah-mentah. Profesionalisme sepakbola baik kompetisi, pemain, dan sejenisnya bukanlah jaminan utama menjadi sukses. Saya begitu terkesan dengan dua pelatih timnas Indonesia yang menekankan “keitimewaan” metode blusukan ini.

Indra Sjafri pernah berujar, “saya merekrut mereka hingga ke pelosok daerah dengan menekankan bahwa tidak perlu memikirkan apa yang akan diberikan negara untuk kita. Pikirkan saja cara bermain terbaik yang dapat kita tampilkan. Baru kita akan lihat apa yang akan negara berikan pada kita”.

Sosok pelatih yang lain, Toni Pogacnik (pelatih timnas Indonesia era Asian Games 1954), juga menganut “paham blusukan” tersebut. Dia yang berhasil menemukan salah satu talenta seperti Legenda kita, Robby Darwis. Toni pernah berujar, “Indonesia harus tetap sebagaimana saat ini, yakni bersifat amatir. Tidak perlu meniru profesionalisme Eropa yang terus berlatih tanpa ada jalan lain selain menjadi pemain profesional. Lagipula, seorang amatir akan bermain lepas, lebih gembira, dan antusias”. http://www.panditfootball.com/perunggu-asian-games-1958-dan-folklore-0-0-di-melbourne/ Persis seperti yang dikemukakan Indra Sjafri beberapa waktu lalu, hasil dari keamatiran itu anak asuhnya memang menjadi militan.

Akhir kata, kita akan merugi jikalau hanya mengandalkan skuad u-19 ini sampai level senior dan menunggu usia di bawahnya menjadi skuad u-19 yang sama kuatnya. Bukan tidak mungkin jika dua sistem di atas diterapkan secara reguler, Indonesia menuai hasilnya dengan lolos ke piala dunia. Positive and Keep Optimism😀

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s