ArsenalCoaster, Surga Adrenalin

Anda pernah mendengar ArsenalCoaster? Tafsiran dari istilah ini pasti langsung menuju pada kata Arsenal dan Roller Coaster. Naik turunnya prestasi Arsenal kah? Bisa jadi demikian. Tapi buat saya, dan mungkin buat pendukung tim london utara ini, pasti pernah mengalami naik turunnya adrenalin kalian setiap kali menonton klub ini berlaga. Delapan musim tanpa gelar adalah kemerosotan terburuk sejak mencicipi juara dengan rekor unbeaten musim 2003/2004. Setelah musim itu, Arsenal harus terus berjuang mendapatkan predikat the big four di liga primer Inggris. Dari delapan musim berikutnya, musim kemarin (2012/2013) adalah musim terberat Arsenal menggapai tempat empat besar itu. Start buruk menyusul perginya pemain pilar macam Fabregas, Van Persie, dan Alex Song adalah salah satu penyebab utamanya. Untung saja, mereka masih bisa bertahan di posisi empatnya, bersaing langsung dengan rival terbesar, Sp*rs. Maaf disensor.

Momen 2011/2012, saya masih ingat betul momen terakhir dimana Arsenal berhasil menjinakkan West Bromwich Albion dengan skor 3-2. Hasil yang mengantarkan Arsenal dan Sp*rs mengalami hasil akhir yang sama namun dengan selisih gol lebih baik bagi London Merah. Lagi-lagi, saya harus mengalami sindrom ArsenalCoaster saat pertandingan akhir musim 2012/2013 kemarin. Kebetulan juga rival masih sp*rs dengan selisih satu poin.

ArsenalCoaster sebenarnya bukan hanya ada pada match akhir musim saja. Dari setiap pertandingan, mereka nyaris membuat fans “jantungan”. Lihat saja musim ini yang dianggap menjadi musim dengan start terbaik dari delapan musim terakhir. Arsenal sudah harus menyerah di pertandingan pertama melawan Aston Villa di kandangnya sendiri, dengan kartu merah didapat oleh Koscielny. Pertandingan berikutnya memang jadi awal kebangkitan mereka. Tapi, dari setiap kemenangan yang didapat, mereka masih saja membuat fans deg-degan. Hampir setiap kemenangan didapatkan dengan dramatis. Kalaupun tidak, kemenangan mereka dapatkan dengan mengagetkan, seperti saat melawan Napoli dan Marseille yang dianggap seimbang dengan Arsenal.

Match melawan Norwich yang mencetak gol besar, 4-1 pun harus tercipta di babak kedua setelah berjalan monoton di babak pertama. Masuknya Rosicky menjadi alternatif kreator permainan mereka musim ini, setelah Cazorla belum menemukan form permainan terbaiknya. Bahkan pada match terakhir kemarin melawan Crystal Palace, mereka lagi-lagi harus mendapat kartu merah. Vice Captain, Arteta, menjadi pahlawan mencetak gol penalti sekaligus harus diusir karena melanggar keras mantan pemain Arsenal musim lalu, Chamakh. Untungnya peran Giroud-Ramsey kembali tampil apik di akhir-akhir pertandingan dan mampu memperbesar keunggulan menjadi 2-0. Bedakan dengan juara musim lalu, MU. Kemenangan yang mereka peroleh seperti begitu mudah dengan andalan 4-4-2 dan permainan semakin membosankan bagi saya karena “kemudahan” itu.

Di sisi lain, ArsenalCoaster ini menjadi suplemen cinta yang khas ala London Merah. Kenangan hampir meraih juara Champions League tahun 2006 melawan Barca di Paris, yang membuat saya harus rela begadang padahal baru menjadi pelajar SMA awal-awal, adalah kenangan tak terlupakan. Yap, ArsenalCoaster dengan hasil akhir yang mengecewakan namun tetap bangga dengan akumulasi permainan mereka yang tak terkalahkan di Champions League musim itu. Nasib mereka tampak seperti Dortmund di musim lalu.

Kartu merah di babak pertama yang didapat kiper Jens Lehmann, legenda hidup Arsenal, harus membuat saya mengalami ArsenalCoaster sekitar 60 menit pada waktu itu. Gol yang kemudian disarangkan oleh Sol Campbell melalui sundulan adalah momen untuk meraih gelar perdana kasta tertinggi Eropa. Sayangnya, lagi lagi ArsenalCoaster membuktikan hasil yang susah ditebak. Pertandingan dengan jumlah pemain yang tidak imbang, yang membuat Robert Pires, si nomor 7 terbaik bagi saya, membuat Arsenal harus menelan pil pahit dari Barca yang sedang on fire saat itu. Lihat saja skuad mereka, ada Ronaldinho, Samuel Eto’o, dan Giuly. Kekuatan besar Eropa saat itu. Namun, kebanggaan memperlihatkan performa terbaik dengan 10 pemain menjadi bukti bahwa Arsenal bukanlah tim kacangan di level Eropa. Sebenarnya mereka sudah merasakan gelar Piala Eropa yakni Piala Winner (kini jadi UEFA European Cup).

Nah, jadi jangan kaget kalau banyak dari kalian yang menjadi fans baru Arsenal terutama musim ini karena Ozil Effect *ups. Jangan berharap banyak dari tim ini untuk meraih gelar. Bukannya skeptis, tapi filosofi Arsenal tentang sepakbola baik dari sisi permainan maupun secara keseluruhan terutama manajemen modern sepakbola adalah hadiah terindah yang bisa dinikmati beberapa tahun ke depan. Terbangunnya stadion Emirates yang harus merelakan opa Wenger “mencetak dan menjual bintang” adalah salah satu kenangan buruk yang menjadi image bagi para penikmat sepakbola tentang Arsenal. Biarlah mereka hanya tahu tentang hal itu.

Utang yang sudah hampir lunas dari pembangunan stadion dan “wage clearance” beberapa pemain yang tak produktif, mampu membuat Arsenal mendatangkan Ozil dengan harga yang tinggi di musim ini. Rekor pembelian bagi klub saat ini tentu saja. Ini adalah indikasi awal, tim ini bukan hanya tak pernah malas mengejar misi dan target, tapi juga mempunyai visi jangka panjang. Dari hal kecil yang jarang terlihat seperti manajemen Groundsman (Tukang Rumput Lapangan) hingga manajemen Scout yang dirintis sebagai Arsenal Global Scouting System adalah beberapa hal besar tentang klub ini. Sejarah mereka tentang klub pertama yang menyiarkan pertandingan sepakbola via radio maupun televisi adalah rintisan bahwa klub ini jadi role model yang baik. Saya memang baru menikmati sejarah arsenal tahun 1998 dimana Prancis menjadi juara dunia dengan beberapa pilar arsenal di dalamnya. Semoga ArsenalCoaster yang istimewa ini bisa terus mereka “jaga”. Good old Wembley, Good old Highbury, Good old Arsenal😀

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s