Musik Folk Cita Rasa Indonesia

AATPSC - Self Titled Cover

Tulisan-tulisanku sebelumnya lebih didominasi seputar sepakbola, yah harap dimaklumilah about my high passion, hahaha. Namun kali ini akan mencoba sesuatu yang belum pernah kutulis, tulisan tentang musik. Walau sebenarnya tulisan ini muncul karena malas meladeni hasil Arsenal vs Chelsea di Capital One Cup semalam, hahaha. Saya tak akan ikutan terlihat bodoh saat bergunjing tentang hasil pertandingan itu. Bukannya mengalihkan isu, tapi tulisan kali ini mencoba untuk menghadirkan nuansa baru dengan topik yang sekiranya masih jarang dipergunjingkan banyak orang. Yap, musik folk. Berawal dari saat menyaksikan penampilan Aurette and The Polska Seeking Carnival (AATPSC) di FEB UGM, Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, saya jadi ikutan senang dengan musik yang jarang saya dengar ini. Ramainya panggung akibat banyaknya personel dengan alat musik yang beragam berhasil menyita perhatianku sejenak. Ternyata, mereka salah satu musisi yang bergenre folk.

Folk sendiri masih dominan dengan hal-hal yang berbau tradisi. Musik folk belum lama hadir di belantika musik nusantara. Makanya, saat band indie asal Jogja itu mulai beranjak ke beberapa pementasan, saya jadi tertarik dengan genre yang mereka bawakan. Dari nama band-nya pun sudah terafiliasi dengan nama “carnival” di belakangnya. Musik-musik pentas teater, drama, dan karnaval seperti sirkus dan atraksi “western carnival” erat dengan lagu-lagu ini. Tentu saja dengan beberapa alat musik akustik seperti ukulele, mandolin, gitar, perkusi, terompet, trombone, dan sebagainya. Setelah menilik beberapa lagunya, ternyata arus “western carnival” ini hanya mempengaruhi corak nada dan beat-nya. Sementara lirik dan pesan lagu yang dibuat, didominasi oleh romantisme dan cinta. Lihat saja pada lagu “I Love You More Than Pizza”, “Wonderland”, “Lies In Cup Of Cappuchino”, dan “Someday Sometimes” pada album “Self Titled” mereka.

Musik folk di Indonesia sepertinya mulai bergairah sejak Iwan Fals membawakan ide-ide segar dibalut dengan alunan nada gitar dan harmonika yang indah. Taufiq Rahman dalam Mencari Rock And Roll Sampai 15.000 Kilometer (2012) menuliskan, “Iwan Fals muncul di awal dekade 1980-an dengan cara bertutur intim–yang mungkin dia pelajari dari Bod Dylan dan satu generasi folk sebelumnya.” Bob Dylan sendiri dianggap sebagai perintis musik ini di era 1930-an di Amerika Serikat. Kejelian melihat fenomena sosial dengan nalurinya, kemudian menangkapnya ke dalam lirik, adalah musik folk unik ala iwan fals. Jadi lebih sederhananya seperti begini. Musik folk itu lebih berasal dari naluri musik yang berusaha diciptakan dari ide pribadi yang berlatar belakang dari kondisi sosial di sekitarnya. Seperti kata “folk” yang mengacu pada tradisi dan cerita rakyat, maka dari itu, musik folk bisa diciptakan sesuai dengan tradisi dari masing-masing wilayah. Pantas saja ada banyak genre yang berkembang setelah Western Folk, yakni Asian Folk, European Folk, dan sebagainya.

Musik folk sekilas memang mirip dengan pop dan jazz. Karena memang musik ini muncul lebih baru, maka sentuhan akustik ala pop dan jazz turut mewarnai perjalanan musik folk. Di era 2011 hingga sekarang, diperkirakan sudah ada banyak band beraliran folk, mayoritas indie tentunya. Yang saya dengar baru Payung Teduh, Dialog Dini Hari, dan Aurette and The Polska Seeking Carnival (AATPSC) ini. Silahkan menikmati beberapa lagu dari Aurette and The Polska Seeking Carnival via youtube berikut ini.



Saya ber-ekspektasi lebih dari perkembangan musik folk ini. Nuansa ala Indonesia seharusnya bisa ditampilkan oleh para musisi dalam negeri. Setidaknya mereka bisa menggabungkan nada dengan lirik menjadi “Rasa Indonesia”. Nada yang dikemas ala indonesia seperti musik rasa keroncong oleh Payung Teduh dan lirik yang dimasukkan dari fenomena sosial ala Iwan Fals. Tentunya akan menggugah ketampanan musisi dan penikmatnya, hahaha. Bukan tidak mungkin, lagu AATPSC dari Jogja bisa berganti menjadi “I Love You More Than Bakpia”😀

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s