Sebuah Salam dari Medioker Teruntuk Para Glory Hunter

Dear, Glory Hunter…

Pertama kalinya kami mengucapkan salam untuk kalian yang berhasil menjadi idol karena keberhasilan tim yang kalian dukung. Kalian yang bangga menjadi bagian dari tim yang kalian tonton dari sebuah kotak layar kaca. Selamat pula untuk hadirnya museum yang telah kalian buat karena padat sesaknya lemari piala di loker room tim kalian.

Kami tak perlu bertanya, sejak kapan kalian jadi bagian dari tim kalian. Kami juga tak perlu banyak bertanya, momen apa saja yang sudah kalian tonton saat tim kalian mendapat piala yang tak terhitung banyaknya itu. Sekali lagi, kami hanya mengucap salam saat kalian berada di atas. Pahamilah, salam kami adalah sebuah pesan yang pernah kami dapatkan pula dari fans tim yang dulu pernah di bawah kami di era 1990-an. Timeline dan Wall kami kini mulai sesak oleh kalian. Kalian sungguh beruntung bisa membanggakan tim kalian dimanapun, kapanpun, dengan media sosial apapun. Namun, kami juga sadar kami bukanlah siapa-siapa. Bukan juga orang yang bangga atas banyak sejarah akan gelar kemenangan. Kami tak perlu juga mengharap kalian menengok kami yang ada di bawah.

Semoga peruntungan selalu ada untuk kalian. Walau sepakbola tak luput dari ironi roda kehidupan yang selalu berputar. Berbahagialah sebelum bahagia itu hilang. Semoga kalian bisa segera melihat sisi lain dari kenikmatan tontonan sepakbola yang kalian definisikan sebagai kompetisi untuk kemenangan, kemenangan untuk piala, dan piala untuk kejayaan. My advise, please redefinite this.

Tertanda,

Medioker.

Saya sedih, saya terpilu, dan saya menghentakkan kepala tiga kali ke tembok setelah membaca surat di atas. Kidding, bro.

Ada yang belum pernah denger Glory Hunter? Yah, mereka adalah sekumpulan cowok penyuka sesama jenis. Ups, just kidding again. Sesuai artinya, pemburu kejayaan atau dalam arti yang lebih spesifik ialah fans sepakbola pemburu gelar. Sepertinya istilah ini mulai muncul sejak dua dekade terakhir, tepatnya tahun 2000-an. Tahun dimana banyak milyuner, bilyuner, taipan minyak, dan orang berduit sejuta umat itu mulai menyusuri sepakbola sebagai lahan bisnis mereka. Entah untuk mengembangkan profit, entah pula untuk sekedar mendapat prestise, yang jelas mereka berinvestasi untuk sebuah Glory, sebuah kejayaan !

Tak perlu menyebut beberapa tim yang memang menjadi langganan belanja pemain dengan budjet besar, tak perlu menyebut pula tim dengan pengeluaran gaji besar untuk pemain berlabel bintang, dan tak perlu juga menyebut tim yang sering berganti pelatih dan manajer demi perfeksionisme sang pemilik klub. Oke, maaf saya sudah menyebutnya secara tidak langsung.

Entah kenapa, saya lebih respect dengan para fans tim medioker. Tepatnya tim yang berada di bawah tim papan atas, dan di atas tim papan bawah. Tak perlu bingung, karena mereka bukan seperti orang gila yang berada di tengah-tengah surga dan neraka. Mereka hanyalah sekumpulan fans sepakbola yang berhasil. Berhasil? Iya, berhasil menikmati proses dari sebuah sensasi kenikmatan olahraga terfavorit ini.

Kebanyakan pria 90-an pastilah mengenal beberapa nama besar klub Liga Serie A Italia yang dahulu berjaya, namun kini namanya sudah mulai berada di jajaran medioker. Pasti masih banyak dari kita yang menyukai Lazio, AS Roma, Fiorentina, dan Parma. Mereka yang tak perlu peduli dengan sejarah kejayaan Juventus dan duo Milan, fans medioker tim-tim itu layak mendapat apresiasi.

Di liga lain, era 1995-an hingga akhir 2000 sepertinya belum mendapat atensi khusus kecuali tim-tim besar yang berjaya di kejuaraan Eropa. Ini mungkin karena pengaruh teknologi yang belum berkembang pesat seperti saat ini. Siaran live saat itu masih didominasi Liga Italia. Liga Inggris mulai mendapat atensi tahun 2000-an, dimana Glory Hunter bermunculan bak jamur kulit, padas, kurap, dan panu di musim penghujan.

Mengapa fans tim medioker hebat? Mereka mampu melihat secercah kebahagiaan dari tim idola mereka, lebih sekedar dari kebahagiaan mendapat sebuah piala. Hal-hal lain yang unik dan jarang bisa dilihat oleh mata kepala pria lain adalah keberhasilan mewujudkan proses kedewasaan. Entah bahagia karena tim mereka mencetak rising star muda yang tengah bersiap dilirik tim besar, entah karena kesukaan mereka pada jersey yang menawan, entah pula karena atraksi suporter ketika tim mereka berlaga, home and away. Fans medioker tentu tak perlu berdebat ketika gagal mendapat gelar ataupun kehilangan pemain bintangnya. They looks so gentlemen, guys. Sepertinya Glory Hunter perlu berkaca dari fans medioker ketika mendebatkan hal tak penting dari sebuah hiburan yang kalian tonton dari layar kaca. It’s just a game, bro.

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s