Gunung Kelud, “Gunung Pengkhianat Cinta” yang murka di hari cinta

Waktu menunjukkan sekitar jam 23 malam. Menikmati malam di Jogja dengan bercanda di angkringan merupakan hal teristimewa hingga saat ini. Di tengah riungan canda dan tawa, sebuah dentuman keras menghentikan sejenak perbincanganku dengan teman-teman. Dentuman keras seperti sebuah petir yang menandakan malam akan turun hujan. Cuaca yang tergolong panas setelah berolahraga, pastinya membuat kami menduga seperti demikian. Kami pun bersiap untuk pulang. Namun, salah seorang teman yang maniak twitter, mengagetkan kami dengan gaya tutur serius bahwa Gunung Kelud lah yang mengeluarkan suara tadi. Kami yang berempat pun seolah tak percaya, apalagi ada seorang teman yang kami anggap “ahli” dalam dunia pendakian. Jogja-Kediri memiliki jarak yang sangat memakan waktu. Ternyata benar, berita pun memastikan dentuman keras itu telah mengagetkan sebagian besar masyarakat Jawa Timur dan Jawa Tengah di penghujung hari Kamis, 13 Februari 2014, seolah menjadi alarm dari Gunung Kelud untuk menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Ramainya “empati dadakan” warga twitterland dan sosial media lainnya, seolah tak menggubrisku. Sudah biasa. Sudah saatnya berdoa dan tak memperkeruh suasana untuk warga yang ada di sekitar sana.

Pagi, 14 februari 2014, hari yang dikenal dengan hari cinta, hari kasih sayang, love day, dan semua ekspresi tentang romansa pun tiba. Namun bagiku, itu saatnya bekerja dengan semangat karena jadi hari terakhir menjelang liburan weekend. Jam menunjukkan pukul 5 pagi. Ibu dan adikku yang pulang dari rumah kakek pun ramai sekali mengabarkan bahwa ada hujan abu deras menerjang. Luar biasa. Sampai pukul 6 pun langit Jogja masih gelap gulita seperti subuh. Sehari itu, hari yang ditunggu banyak orang yang ingin mengekpresikan cinta, berhasil ditunda oleh debu abu vulkanik yang sangat tebal. Gunung Kelud mengaburkan hari cinta dengan debunya.

Hari sabtu pun aku masih setengah tak percaya ratusan kilometer jarak Gunung Kelud-Jogja tak kuasa menahan laju abu vulkanik itu. Bahkan, sampai ke Jawa Barat. Aku pun jadi terngiang, gunung ini pasti bukan sekali dua kali begini. Dulu waktu jaman SD, banyak penjual mainan yang menjual gambar tokoh superhero jaman itu dengan gambar Gunung Kelud di baliknya. Entah kenapa, Gunung Kelud sudah terngiang di pikiran ini sejak kecil. Seolah tersadar, mungkin inilah kenapa Gunung Kelud bukan sembarangan terkenal sejak dulu kala. Cerita ibu saat menginap di rumah kakek pun menjadi pertanda. Kakek ternyata seperti bersikap biasa saat melihat abu vulkanik. Beliau berkata, “oh Kelud to, tahun 50”.

655443494586039049_253132317

Mungkin sudah ada yang tahu cerita legenda Gunung Kelud? Nama Prabu Brawijaya dan Lembu Sura pasti bukan nama yang asing kala kita mengenal sejarah kerajaan Majapahit yang merajai Nusantara. Ada beberapa versi cerita tentang raja dan kerajaan yang menandai masa itu, antara Prabu Brawijaya saat menjadi raja Majapahit, atau setelah kehancuran Majapahit dengan munculnya Kerajaan lebih kecil seperti Doha dan Kahuripan. Yang pasti, ceritanya sama dan tokoh utama Lembu Sura adalah tokoh yang tak berubah di setiap cerita. Salah satu cerita lebih lengkapnya bisa dilihat disini http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/186-Legenda-Gunung-Kelud. Sedikit cuplikan, dahulu ketika Prabu Brawijaya berkuasa, dia mempunyai anak cantik bernama Dyah Ayu Pusparani. Prabu Brawijaya suatu saat bingung memilih calon menantu. Lalu raja mengadakan sayembara siapa yang bisa merentang busur sakti Kyai Garodayaksa dan sanggup mengangkat gong Kyai Sekardelima, dialah yang berhak menikah dengan Putri Pusparani. Akhirnya, keluarlah nama pemenang, dia adalah Lembu Sura. Manusia dengan kepala Lembu. Putri raja pun malu jika calon suaminya adalah manusia berkepala lembu. Raja pun juga bisa runtuh wibawanya. Akhirnya dengan trik yang raja dan putri buat, mereka membuat syarat tambahan pada pria kuat yang ditengarai bisa bekerjasama dengan makhluk halus itu. Syaratnya ialah membuat sumur di puncak gunung Kelud. Setelah proses pembuatan sumur hampir selesai, raja dan putri tak mau lengah lagi, mereka segera memerintahkan pengawalnya untuk mengubur Lembu Sura hidup hidup di puncak Gunung Kelud itu. Dengan memohon ampun namun tak terkabulkan, Lembu Sura pun sempat mengancam keduanya.

“Yoh, Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yaiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung”.

(Wahai orang-orang Kediri, suatu saat akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan, dan Tulungagung menjadi daerah perairan dalam).

Wilayah yang disebut itu adalah wilayah sisa kerajaan Majapahit saat dipimpin Prabu Brawijaya. Dengan legenda ini, pantaslah gunung Kelud jadi gunung yang khas dengan cerita “gunung pengkhianat cinta”.
Legenda ini layak kita apresiasi untuk makna dan intisari yang terkandung didalamnya. Cerita luhur yang penuh dengan makna untuk setiap masyarakat kita walau di jaman yang terus berbeda. Selain merusak makna hari valentine, letusan kemarin juga mengalahkan kalender internasional lainnya.Coba lihat disini http://m.kompasiana.com/post/read/631864/1/membaca-kelud-antara-mitos-wage-dan-amuk-lembu-sura.html . Gunung Kelud ini kerap diperingati dengan sesajen untuk menghindari amuk legenda Lembu Sura setiap pasaran wage dalam kalender Jawa. Berbeda dengan kalender internasional, perhitungan pasaran Jawa dihitung sejak sore hari. Itulah sebabnya, meski letusan terjadi Kamis Kliwon malam pukul 22.59, namun bagi orang Jawa, waktu itu sudah memasuki pasaran wage. Tak heran, beberapa warga di kompleks Perumahan Pondok Delta Jengglong, Kaweron, Talun, Blitar pun sudah menggelar acara pengajian dan yasinan beberapa jam jelang letusan. “Karena itu, malam ini perlu waspada mengantisipasi aktivitas Gunung Kelud, karena sekarang malam Jumat Kliwon,” ujarnya. Tradisi “Wage Keramat” menjadi acuan keselamatan mereka saat itu.

Namun yang tak kalah menarik adalah istilah morfologi “kelud” yang salah satunya berarti “reresik” atau bersih-bersih. Sapuan angin yang membawa abu vulkanik hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Barat seolah menandakan kegiatan bersih-bersih setelah bencana ini. Saatnya yang jauh dari lokasi bencana “ikut berandil nyata dalam berempati dan bersimpati” terhadap warga nusantara lain. Tak hanya berkicau di twitter atau menggores dinding facebook. Kini, valentine day rasanya perlu diperluas maknanya akan cinta terhadap lingkungan alam sekitar. Berkiblat pada dunia barat belum tentu bermanfaat. Yang berwarna putih pun ternyata tak selamanya lebih baik.

655467775511387626_11816174

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s