A man who addicted football: Girls, what’s your choice?

Musim yang biasa saja. Yah begitulah apa yang dirasakan hampir semua gooners. Musim 2013/2014 sekalipun, sudah biasa. “Kesuksesan” di bursa transfer (ozil’s effect) dan jadi top of the league hingga tengah musim pun “lumayan” mendatangkan fans baru arsenal. Namun, hasil di akhir separuh musim lagi-lagi tak sekonsisten setengah awal musim sebelumnya. Bertambahnya kekuatan arsenal musim ini ternyata diikuti oleh tim besar lain, bahkan Liverpool yang berpuluh tahun tak merasakan gelar premier league. Sial? Maybe. Musim-musim sebelumnya, arsenal tak berdaya di awal musim, namun menjadi kuat tak terkalahkan di akhir-akhir musim hingga selalu mencapai zona kualifikasi Liga Champions.

Kekalahan telak dari tim besar selalu melanda tim ini. Tak terkecuali di musim ini, arsenal bahkan selalu kebobolan rata-rata 5-6 gol di laga away lawan liverpool, chelsea, dan city. Where is MU? Hashtag #thankyouMoyes sudah cukup menjelaskannya. Bencana kalah telak ini pasti jadi bahan pem-bully-an yang wajar di dunia sepakbola. Hal yang sungguh-sungguh tak ada di era sebelum dunia sepakbola dicaplok kapitalisme pengusaha asing.

Ada yang menarik ketika dunia dikuasai oleh teknologi komunikasi dan informasi. Dengan mudahnya sosial media jadi ajang kontestasi diri, seperti berlagak menjadi komentator ulung sepakbola. Teori dan data statistik mudah mereka kuasai dengan cepat berkat teknologi. Yah, teknologi juga lah yang membuat mereka lebih paham tentang si bola bundar ini. Bahkan, live tweet dan live score pun bisa dijadikan bahan untuk berkomentar hasil semalam. Bagaimana hasil lebih diutamakan daripada proses. Mereka pasti hanya tahu arsenal kalah besar, tanpa tahu penyebabnya. Kalaupun tahu, pasti hanya berdasarkan data, “oh si X dikartu merah”, yah begitulah mereka berseloroh. Yang menarik dari kejadian saat melawan chelsea adalah pelanggaran berbuah penalti dan kartumerah adalah terjadi pada orang yang salah. Chamberlain melanggar, gibbs yang dikartu. Pertahanan pun jadi kocar-kacir. Hal yang sama ketika Gibbs dikartu merah saat melawan Bayern Munchen.

Kini, mereka selalu menertawakan arsitek klub, Wenger dan fansnya. Saya sendiri tak terlalu risau. Bahkan ada beberapa momen pahit yang lebih terasa getir. Lagi-lagi kartu merah cepat pada Jens Lehmann di final Liga Champions vs Barcelona adalah salah satu momen terpahit selama menjadi gooners. Pada waktu itu, saya merelakan waktu yang tak wajar saya. Tahun 2006 adalah waktu dimana saya masih kelas 3 smp dan jadi hal tak wajar waktu itu ketika seorang anak smp begadang. Salah satu hal yang jadi biasa di masa kini. Yang dimasa kini pun seolah meremehkan data sejarah, dan membalikkan fakta dengan ocehan. Kalau Fans arsenal jadi korban “London is Blue”, bagaimana perasaan fans liverpool yang lebih lama lagi tak merasakan trofi liga? Kop bless you, liverpudlian🙂. We’re on the same track.

Ingin sekali saya (bahkan mungkin juga fans liverpool) menyadarkan salah satu hal pada mereka fans baru chelsea dan city. DIMANA KALIAN DULU WAKTU KAMI JUARA UNBEATEN 2003-2004? (fans arsenal). DIMANA KALIAN SEWAKTU KAMI JUARA LIGA CHAMPIONS FULL DRAMA 2006? (fans liverpool). Jawabannya: Chelsea lagi bikin peta kekuatan, city baru nyari pengusaha minyak asal UEA.

Tapi rasanya tak ada habisnya melawan otak manusia yang begitu besar dianugerahkan Tuhan. Data dan fakta sudah pasti dibolak-balikkan. Jawaban mereka tentu saja seperti yang sudah saya kira seperti beberapa waktu terakhir ini: MAKAN TUH SEJARAH, MOVE ON.

Kalimat yang begitu berhaluan dengan apa yang terkenal dari bung Karno, JAS MERAH. Rasanya pantas sekali satu pernyataan bung Karno tadi jadi jawaban mengapa bangsa ini begitu gampang menjadikan budaya Jepang, Korea, Ultras, Hooligans, dan apapun tentang adopsi budaya di semua sisi kehidupan.

Yah begitulah dampak teknologi. Datang dengan instan, diresapi dengan instan.

Maafkan tulisan yang belagu ini. Saya hanyalah orang yang berpegang pada proses. Seperti halnya pada The Arsenal Way. Siapapun pelatihnya, siapapun pemainnya, semua harus mengikuti Prinsip Arsenal Way. Salah satunya: dari yang tak ada menjadi ada. Yah, saya begitu cinta dengan prinsip klub ini sebenarnya, bukan materi pemain, kekayaan, dan sebagainya.

Dennis Bergkamp. Dialah awal kecintaan saya pada klub ini. Kedatangan Bergkamp sebelum Wenger yang di Inter Milan tak dianggap apa-apa, menjelma menjadi otak segala assist dan goal poacher. Kecintaan pun semakin bertambah ketika tim negara favorit saya, Perancis menjadi kampiun dunia di tahun 1998. Thierry Henry, Robert Pires, Emmanuel Petit, Patrick Viera, William Gallas, dan banyak aroma Perancis menghuni arsenal. Di tahun itulah, arsenal malah digagalkan oleh dobel gelar rivalnya, MU. Gelar yang mungkin menjadikan Ayah membawakan oleh-oleh jersey MU away 98 biru itu dari Mangga Dua, Jakarta. Sayang sekali, saya sudah setahun sebelumnya cinta dengan klub London merah itu. Tak sia-sia, gantian Arsenal dobel gelar di musim berikutnya. FYI, hanya arsenal dan MU yang bersaing berganti gelar premier league waktu itu hingga tahun 2000an (sebelum premier league kedatangan taipan rusia dan UEA).

Prinsip berproses sepertinya akan terus saya tiru di kehidupan. Biarkan mereka yang terus menikmati sepakbola dengan hasil dan gelar, toh sah-sah saja bahkan sangat wajar. Biarkan pula mereka mengoceh dengan segala hal teori dan kemampuan penguasaan data wikipedia dan sumber informasi lengkap lainnya tanpa pernah bermain menikmati sepakbola langsung di lapangan. Biarkan mereka menikmati dunia yang serba instan ini. Toh sepakbola adalah milik bersama, bisa dinikmati dari berbagai cara :’). Saya lebih memilih menjadikannya pelajaran di dunia kehidupan nyata. Kesetiaan dan prinsip berproses. Arsenal make superstar and always on the top four. Ada kalanya seorang pria mulai berusaha dari bawah, yang harus menempuh terjangan suka dan duka, namun tetap stabil dengan komitmennya. In the other side, sugar daddy club dengan cepat mendapat kesuksesan instan dengan uang berlimpah. Ada kalanya pula seorang pria sudah mapan dari sejak lahir di keluarga yang berada. So for girls, what’s your choice? It depend by your quality and being an indicator of your quality🙂.

Tentang ynrmslh

penutur kata . gooner layar kaca . anak muda jogjakarta
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s